Kisah Pilu Korban selamat Tsunami Banten

Tangerang – “Dede airnya datang, tahan napas,” begitulah ucapan Eko Sudarwanto (34) saat tsunami datang menggulung bersama sang putri Keyla Annisa Salsabila (4).

Pasangan suami istri Eli Ernawati (33) dan Eko Sudarwanto bersama sang putri Keyla Annisa Salsabila warga Perum Pondok Indah, Jalan Brantas Blok F 36/13, RT 003/010, Kutabumi, Pasar Kemis, Tangerang menjadi saksi meletusnya Gunung Anak Krakatau dan datangnya tsunami.

Berniat untuk pergi berlibur ke Pantai Carita, Pandeglang, Banten rombongan keluarga besar sang suami, yang pergi menggunakan 2 bus besar dan 6 mobil pribadi untuk bersenang-senang justru harus merasakan dasyatnya gelombang tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12).

Dari sekitar 100 orang yang hendak berlibur, 14 diantaranya meregang nyawa tergulung ombak dan sisanya mengalami luka ringan dan berat termasuk Eli bersama suami. Mobil pribadi dan bus yang mereka gunakan, hancur akibat terbawa gelombang tsunami.

Titanews.id yang mengunjungi kediaman Eli, menceritakan detik-detiknya datangnya tsunami. Eli mengatakan, dalam rombongan tersebut ada keluarga yang datang dari Jawa Tengah untuk berlibur.

Sabtu (22/12) siang, rombongan keluarga besar yang hendak berlibur tiba di Mutiara Cottage, Pantai Carita, Pandeglang, Banten. Sesampainya disana, rombongan beristirahat dan sorenya rombongan yang mayoritas diisi anak-anak bermain di bibir pantai dan ada pula yang berenang.

Suasana disekitar pantai saat itu tenang, tak ada tanda-tanda tsunami datang. Namun menjelang Magrib, Eli mengatakan setiap lima menit mendengar letupan keras dari Gunung Anak Krakatau. Sang putri Keyla (4) pun, sejak tibanya di lokasi penginapan selalu mengajak pulang tak seperti biasanya.
“Gak ada tanda-tanda tsunami datang, cuman saya lihat Anak Krakatau ngeluarin suara setiap lima menit,” ucapnya.

Setelah itu, sekitar pukul 21.00 WIB. Eli bersama sanak saudaranya berbincang dengan posisi menghadap ke pantai. Pada saat itulah, Eli melihat Gunung Anak Krakatau meletus mengeluarkan lahar.

“Waktu ngobrol ngadep pantai, kok Anak Krakatau ngeluarin lahar. Dari situ jam 21.30, air laut saya lihat sudah surut ada ombak sekitar 5cm tapi gemuruhnya kenceng. Saya pikir, kalau gunung meletus ngeluarin lahar pasti ada lempengan yang jatuh kelaut dan bakal ada tsunami,” paparnya.

Tak berpikir panjang, Eli langsung teriak bahwa akan ada tsunami dan berlari menuju kamar. Namun, teriakan Eli tak banyak yang percaya. Menurutnya, gelombang tsunami datang dua kali. Di gelombang pertama tsunami hanya gelombang kecil saja. Pada saat di gelombang kedua, Eli langsung tersapu ombak dan terpisah dari suami dan sang putri.

“Gelombang kedua datang itu sekitar 3 meter, saya langsung kegulung campur kursi, kasur yang ada di kamar. Sekitar 6 detik saya kegulung dan air langsung surut tapi airnya sudah sedengkul,” katanya. dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan, sang suami Eko sempat berbicara kepada sang anak bahwa air tinggi akan datang. “Dede airnya datang, tahan napas,” imbuh Eli seraya menirukan ucapan sang suami.
Disaat itu, Eli memanggil sang putri yang terpisah. Berselang 10 menit, suara sang putri bersama suami terdengar dan membuatnya tenang. Dalam kondisi gelap gulita, Eli bersama anak dan suami mencari pertolongan.

“Waktu gelap begitu, anak saya justru yang ngasih penunjuk jalan. Jalannya kesini mah, kesini mah” anak saya kaya dikasih petunjuk, sampai saya bisa keluar ke jalan raya,” ungkap Eli.

Saat mencari pertolongan, banyak orang yang terjepit reruntuhan bangunan meminta pertolongan dan teriak histeris. Dengan kondisi pakaian yang basah dan suami yang tertimpa beton dibagian bahu serta lecet dibagian kaki, tak dirasakan demi mencari pertolongan.

“Saya nyegatin mobil gak ada yang mau berhenti. Ada warga yang bilang nyuruh ke bukit. Anak saya sampai bilang, mamah dede kedinginan mah, dede takut dan bilang dede kaya digulung-gulung kaya di mesin cuci, pusing,” ucap Eli terbata-bata menceritakan datangnya tsunami.

Saat jalan menuju bukit dengan kemiringan sekitar 180 derajat dan dipenuhi krikil tajam serta hujan lebat. Eli, Eko dan Keyla tiba di Masjid tempat mereka beristirahat.

Usai itu, Minggu (23/12) sekira pukul 09.00 WIB tim evakuasi dari kepolisian tiba di Masjid tempatnya berlindung sekaligus beristirahat.
Seminggu sudah tsunami Selat Sunda berlalu, rasa trauma masih hinggap di dirinya. Bahkan, sang anak juga merasakan hal yang sama.

“Kalau setiap denger suara, jadi takut. Mau pergi kemana-mana juga takut jadinya. Alhamdulillah saya, suami dan anak masih dikasih selamat,” tutupnya. (Lan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*