Ramadhan Bulan Merayakan Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur`an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, enam ribu sekian ayat, kata Ramadhan hanya satu kali disebutkan, yaitu di dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Di dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Inilah satu-satunya tempat di mana kata “Ramadhan” disebutkan di dalam Al-Qur`an. Allah SWT tidak menjelaskan bulan Ramadhan bulan untuk berpuasa, tidak pula untuk sholat tahajjud, i’tikaf, dan lainnya, tetapi Allah SWT menegaskan bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur`an.

Apa maknanya? Tidak lain adalah ibadah yang sangat utama di bulan Ramadhan adalah meningkatkan pemahaman kita terhadap Al-Qur`an.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk merayakan Al-Qur`an. Maka, jika seseorang yang berpuasa Ramadhan, dia sholat tahajjud, tarawih, bersedekah, beri’tikaf, dan melakukan ibadah lainnya, tetapi selama Ramadhan sama sekali tidak membaca Al-Qur`an, maka Ramadhannya kurang bermakna.

Di sisi lain, makna peningkatan pemahaman terhadap Al-Qur`an bukan hanya sekedar mengejar target khatam tanpa mengerti artinya. Al-Qur`an sebagai petunjuk harus dipahami dengan cara membaca dan memahami artinya. Oleh karenanya, membaca terjemahannya menjadi mutlak dilakukan.

Ketika seseorang melakukan traveling ke negeri China dan ia melihat tulisan petunjuk arah, maka tulisan tersebut bukanlah petunjuk baginya karena ia tidak mengerti bahasa China. Seseorang yang melihat tulisan petunjuk arah di Jerman, tulisan tersebut tidak menjadi petunjuk baginya karena ia tidak mengerti bahasa Jerman.

Begitu pula Al-Qur`an, ia belum menjadi petunjuk bagi pembacanya jika tidak mengerti artinya. Bagaimana agar ia menjadi petunjuk? Mau tidak mau harus membaca terjemahannya.

Seorang Yahudi sebagaimana dikutip Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya “Spritual Reading”, hidup lebih bermakna dengan membaca, terbitan Aqwam 2007, mengatakan bahwa “Kami orang Yahudi tidak takut dengan umat Islam, karena umat Islam adalah umat yang tidak suka / miskin membaca”, terutama membaca kitabnya.

Banyak tokoh berpendapat kemunduran umat Islam salah satu penyebabnya karena umat Islam saat ini malas membaca. Budaya membaca yang dapat melahirkan kemajuan di bidang pengetahuan dan teknologi ditinggalkan banyak umat Islam dunia.

Walau umat Islam membaca Al-Qur`an, tapi banyak dari mereka yang tidak mengerti artinya. Ketidakmengertian tersebut mengakibatkan prilaku dalam kehidupannya tidak sejalan dengan apa yang dibaca.

Pada bulan Juni 2017, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur`an (LPTQ) Provinsi Banten melakukan survei melek huruf Al-Qur`an. Salah satu hasil survei tersebut menyebutkan ada 12,36% penduduk Banten yang sama sekali tidak bisa membaca Al-Qur`an. Dan sebanyak 34,55% penduduk Banten tidak memiliki Al-Qur`an di rumahnya.

Dari mereka yang bisa membaca Al-Qur`an, ternyata yang mempunyai kemampuan membaca Al-Qur`an dari tingkat cukup sampai sangat buruk mencapai angka 76,72 persen. Sementara yang terbilang mampu dari tingkat agak baik sampai dengan sangat lancar hanya 23,28 persen.
Tentunya ini sebuah keprihatinan yang membutuhkan perhatian serius. Bagaimana Al-Qur`an menjadi petunjuk jika kualitas membacanya saja masih rendah, atau lancar membaca tapi tidak mengerti artinya.

Contoh kecil misalnya makna dari surat Al-Ma’uun, surat ke 107, surat yang sudah kita hapal sejak kecil. Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin.”
Karena hanya sekedar hapal tanpa mengerti artinya, akhirnya ketika selesai sholat melihat anak yatim nakal langsung ia bentak, melihat saudara dan tetangganya kelaparan ia cuek, padahal ia baru saja membaca surat Al-Ma’uun.

Ayat berikutnya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” Bayangkan, orang yang shalat saja celaka, apalagi yang tidak shalat!
Yang celaka itu yang seperti apa? Allah SWT melanjutkan, “yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya`.”

Lalai mengulur-ulur waktu atau melakukan shalat dengan terburu-buru tidak tuma’ninah. Atau orang yang beribadah karena riya`, mengharap pujian dari orang. Ia beribadah karena ingin mendapatkan pujian dari orang.

Bersedekah ingin diumumkan, membaca Al-Quran ingin disanjung orang, berhaji ingin mendapat titel haji/hajjah. Padahal, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauzi, suatu ibadah yang dilakukan karena riya bukan ikhlas karena Allah, ibarat seorang musafir yang berjalan di padang pasir dalam sengatan matahari yang panas, tapi bekal yang ia bawa sekarung pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat baginya.

Ini semua dapat kita pahami jika kita membaca terjemahan Al-Qur`an, sehingga Al-Qur`an bukan hanya sekedar dibaca dan dihapal saja, tapi juga dipahami maknanya untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.

Sekali lagi, bulan Ramadhan adalah bulan untuk merayakan Al-Qur`an, bulan untuk meningkatkan kualitas kita terhadap Al-Qur`an. Bagi yang belum bisa membaca Al-Qur`an, niatkan di bulan Ramadhan ini harus bisa membaca Al-Qur`an. Bagi yang belum memahami artinya, mulailah di bulan Ramadhan ini membaca terjemahannya, membaca tafsirnya, dan seterusnya.

Semoga selepas Ramadhan nanti, kita menjadi pribadi yang lebih baik setelah membaca dan memahami kandungan Al-Qur`an. Insya Allah.

Azharul Fuad Mahfudh

Humas Kemenag Kota Tangerang Selatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*