Sekelumit Sejarah Cina Benteng

Kelenteng di Pasar Lama, Kota Tangerang. (Fie)

Julukan ‘Cina Benteng’ awalnya ditujukan kepada penghuni pecinan yang berlokasi di sebelah selatan Benteng Makasar yang didirikan VOC di Tangerang.

Seiring menyebarnya permukiman warga Cina, sebutan itu kian meluas hingga ke pelosok Tangerang. Sampai hari ini pun orang masih menyebut kawasan sekitar pecinan Pasar Lama Tangerang dengan julukan ‘Benteng’. Sayangnya, benteng itu sulit diketemukan jejaknya dan tidak pernah ada penggalian-penelitian arkeologis.

Baca juga: Hari Santri Nasional Bermula dari Banten

Dahulu kala, warga peranakan Cina Benteng merupakan komunitas kebanyakan yang menghuni Tangerang. Warga lokal yang bukan peranakan adalah Betawi Udik.

Di jamannya kala itu, warga peranakan Cina Benteng merupakan komunitas kebanyakan yang menghuni Tangerang. Warga lokal yang bukan peranakan adalah Betawi Udik. Umumnya mereka bertani. Bahasanya yang mereka gunakan tidak berbeda dengan dialek Betawi pinggiran.

Sementara, warga pendatang kawasan ini adalah mereka yang hanya berprofesi sebagai pegawai negeri, guru, tentara, dan polisi. Mereka yang berbahasa Sunda pun umumnya berasal dari daerah Banten-Serang.

Tatkala pembentukan sistem swatantra, Tangerang tidak lagi menjadi bagian dari residensi Batavia. Kota kecil di barat Jakarta itu menjadi kabupaten, dan termasuk Jawa Barat. Sekarang masuk wilayah Provinsi Banten. Padahal dari entitas bahasa dan budaya adalah Betawi. (http://nationalgeographic.grid.id)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*